Selasa, 27 Januari 2015

KETIKA MARAH DENGAN ISTRIMU....



KETIKA MARAH DENGAN ISTRIMU, PANDANGI DIA KETIKA TIDUR 

“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.

Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya. Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.







Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya. Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya. Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah. Kakeknya mengatakan, Jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu.

Karena kamupun juga tidak sama persis dengan maunya.

Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda.

Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur….

“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.

“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.



Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.



Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandaginya menyeruakkan berbagai macam perasaan.

Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, dia bergumam,



“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktifitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan. Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.



Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku. Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.



Wahai istriku, dikala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.



Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki. Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu?

Dengan alasan apa aku perlu marah padamu?

Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata. Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.



Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumahtangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah swt. Segala puji hanya untuk Allah swt yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”



Tanpa terasa airmata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian iapun terlelap.



***

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Aminah, istri Amin, terperanjat “Astaghfirullaah, sudah jam dua?”

Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan. “Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.



Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.



“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.



“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.



“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.



“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu. Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku. Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku.



“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah swt. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”



Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota’ayun waj’alna lil muttaqiina imaamaa.


sources :  by Fatah Al Fajitani - Jan 4, 2015




Kamis, 18 Desember 2014

Lokomotif, Sang Atlet, dan Si Ibu Tua



Kisah Si Lokomotif, Sang Atlet, dan Si Ibu Tua

Alkisah tersebutlah sebuah negeri di mana semua lokomotif kereta bisa berbicara seperti manusia. Pada suatu hari, para lokomotif mendapat tugas menarik serangkaian gerbong yang sangat panjang dan berat melintasi sebuah gunung yang sangat tinggi. Semua lokomotif menganggap tugas tersebut mustahil, kecuali sebuah lokomotif kecil. Lokomotif lainnya yang jauh lebih besar dan kuat mencemooh lokomotif kecil ini. Mereka menganggap diri mereka yang lebih kuat saja tidak akan sanggup mengemban tugas seperti ini, apalagi lokomotif kecil yang lemah itu.
Tanpa mengindahkan cemoohan lokomotif lainnya, si lokomotif kecil berusaha menghela rangkaian gerbong ke atas bukit. Tak henti-hentinya ia berpikir, “aku bisa, aku bisa!” Dengan mengerahkan seluruh kemampuannya ia terus mendaki dan akhirnya berhasil melewati puncak bukit. 
Ya, cerita tadi memang hanya cerita anak-anak berjudul ‘The Little Engine That Could’ yang ditulis oleh Mary C. Jacobs. Walaupun demikian, bukan berarti kisah yang sama tidak terjadi di dunia nyata. 
Hendrawan, atlet bulutangkis Indonesia di era 90-an juga memiliki pengalaman yang sama. Tahun 1997, Hendrawan dinyatakan sudah habis kariernya oleh PBSI. Karena faktor usia dan prestasinya yang menurun, PBSI bermaksud mengeluarkan Hendrawan dari Tim Pelatnas. Tapi Hendrawan punya keyakinan sendiri, bahwa kemampuannya belumlah habis. Ia percaya bahwa dirinya masih dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi. 
Tahun 1998, Hendrawan menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia sekaligus menjuarai Singapura Terbuka. Di tahun 2000, Hendrawan kembali menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Di tahun itu pula ia mengukir namanya dengan meraih medali perak dalam Olimpiade Sydney. Masih di tahun yang sama, ia menjadi runner-up Jepang Terbuka. Kemudian di tahun 2001, ia merebut gelar Juara Dunia Tunggal Putra, sebuah gelar paling prestisius dalam cabang bulu tangkis. Tahun 2002, ia kembali membawa Indonesia mempertahankan Piala Thomas ke Tanah Air.
Bukan hanya atlet dengan fisik prima seperti Hendrawan yang bisa berprestasi. Percaya pada diri sendiri, percaya akan kemampuannya, dapat ditunjukkan oleh siapa pun. Tanpa mengenal pekerjaan, status, umur dan jenis kelamin.
Masih ingat kisah Mak Eroh yang pernah ditayangkan di SEMMangat Jumat ? Prestasi Mak Eroh berangkat dari keprihatinan beliau pada kondisi para petani di sekitar tempat tinggalnya yang sangat tergantung pada musim hujan. Mereka hanya dapat bertani sekali setahun, saat  hujan datang. Mak Eroh yakin, apabila para petani mendapatkan aliran air yang kontinu, mereka dapat bertani sepanjang tahun. 
Tak ingin berpangku tangan, Mak Eroh yang telah berusia 50 tahun ini berjuang sendirian membuat saluran air yang menghubungkan mata air di puncak Gunung Galunggung ke desanya. Selama 47 hari beliau bergelantungan sendirian di tebing cadas yang curam untuk membuat saluran air. Tidak ada orang yang membantu karena orang-orang berpikir itu adalah pekerjaan sia-sia dan mustahil. Alih-alih membantu, penduduk desanya malah mencibir dan mencemooh. 
Mak Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD ini, hanya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, serupa linggis pendek.
Cibiran dan cemoohan penduduk akhirnya bungkam saat saluran air buatan Mak Eroh jadi dan berhasil mengalirkan air ke desanya. Namun Mak Eroh tidak berhenti sampai di situ. Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Mak Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Kali ini pengerjaannya dibantu oleh warga desa yang kini telah percaya dengan semangat Mak Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Mak Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu. Total 25 hektar area persawahan terairi sepanjang tahun berkat kerja keras Mak Eroh. 
Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian,
dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.
Dua kisah di atas memberi hikmah bahwa sebenarnya kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki. Seperti yang dikatakan oleh Mary Kay Ash, pengusaha kosmetik sukses asal Amerika, ”Anda bisa melakukannya jika Anda berpikir demikian, dan jika Anda kira tidak dapat melakukannya, Anda pun benar.” William Arthur Ward, penulis kondang asal Amerika mengatakan, ”Saya adalah pemenang karena saya berpikir seperti pemenang, bersiap jadi pemenang, dan bekerja serupa pemenang.” Ward betul, jika Anda berpikir menjadi seorang pemenang, maka memang benar Anda seorang pemenang.
Percaya akan kemampuan diri sendiri. Jadilah lokomotif dan teruslah bergerak untuk maju.
*dari berbagai sumber

Pemenang Sejati



Sukses Adalah Milik Pemenang Sejati

"Pemenang sejati tahu bahwa kekalahan adalah bagian dari proses untuk menang. Orang-orang yang kalah dalam hidupnya hanya berpikir pemenang tidak pernah kalah. Orang yang selalu kalah (pecundang) adalah orang yang hanya mampu bermimpi untuk menang dan melakukan semua hal yang mungkin untuk menghindari kesalahan,“ Kalimat tersebut ditulis oleh Robert T. Kiyosaki, seorang usahawan, motivator dan penulis terkenal. Salah satu bukunya yang laris adalah Rich Dad Poor Dad.
Orang sukses tampak menonjol dari orang lain karena dia belajar lebih banyak dari orang lain. Hidup adalah lautan ilmu. Di mana saja kita bisa belajar dan memang harus terus belajar hingga akhir hayat.
Sukses adalah pencapaian terbaik dari setiap usaha yang telah kita lakukan. Mengartikan pencapaian terbaik tidaklah sama dengan memperoleh peringkat terbaik. Pencapaian terbaik adalah hasil yang telah kita peroleh dari hasil kerja keras secara maksimal.
Bingung dengan kalimat di atas? Ibaratkan seorang pelari yang akan berlomba. Jauh sebelum lomba dimulai, ia sudah menyiapkan diri secara optimal, karena berniat memberikan upayanya yang terbaik. Saat perlombaan dimulai, ia mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk memenangkan lomba. Ternyata, setelah lomba berakhir ia hanya menduduki peringkat ke 3.
Apakah dengan demikian ia tidak sukses?
Sebelum berlomba, pelari tadi berniat memberikan upaya terbaik, dan ia telah berhasil melakukannya. Dengan demikian, bisa dikatakan ia telah sukses. Kalaupun ia hanya menduduki posisi ke 3, itu hanya berarti ada 2 orang yang kemampuannya lebih baik.
Apabila pelari tadi berpikir sebagaimana orang sukses, ia akan melihat hasil lomba sebagai alat ukur kemampuan. Dengan mengetahui ada 2 orang yang saat ini kemampuannya lebih baik, ia mengetahui di lain kesempatan berapa banyak lagi upaya yang harus dikerahkannya untuk merebut gelar nomor 1.
Ingat ketika waktu kita masih kecil dan belajar berjalan ? Ketika kita belajar berjalan pasti kita akan merasakan jatuh. Apa jadinya ketika terjatuh membuat kita takut kembali belajar berjalan? Tentu saat ini kita masih belum bisa berjalan. Begitu pula dalam kehidupan nyata, kegagalan diibaratkan jatuh. Bila ingin sukses teruslah belajar dan mengevaluasi kegagalan bukannya berhenti. Jadikan kekalahan dan kegagalan sebagai bagian jalan menuju kesuksesan.
Bagi orang sukses, hidup adalah peluang untuk mencapai kesuksesan. Kiat-kiat berikut ini disarikan dari hasil penelitian terhadap orang-orang sukses. Apa sebenarnya yang mereka ketahui dan lakukan untuk menjadi sukses?
Berikut kiat menjadi orang sukses yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan Anda:
1. Orang sukses mau mengambil resiko. Mereka berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang dan gesit mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman, dan mau terus mengambil resiko untuk meraih sukses.
2. Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia. Mereka memandang sebuah dunia sebagai sesuatu yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai ketrampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa ketrampilan ini memberi nilai kepada ketrampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.
3.  Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan, mereka memilih bekerja di mana mereka dapat unggul. Orang sukses menyukai tantangan, mereka menikmati pencapaian puncak permainan mereka, apakah di pekerjaan, lapangan tennis atau lapangan golf.
4  Orang sukses adalah pelajar seumur hidup. Mereka menyadari, pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas, artinya mencoba ide baru, membaca buku, surat kabar, majalah dan menggunakan internet merupakan bentuk pendidikan pula.
5. Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan, dan ini meluas pada hal-hal lain. Mereka percaya gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan tertinggi.
6. Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain.
7. Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-tengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finish. Mereka memanfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.

Selamat mencoba dan meraih sukses Anda,

source : Dari Berbagai sumber

BERANI BERMIMPI



BERANI UNTUK BERMIMPI

Only who  can see the invisible, can do the impossible! (Hanya mereka yang dapat melihat sesuatu yang tak nampak, yang mampu melakukan sesuatu yang mustahil) Thomas Craliley
Masih ingat ketika waktu masih kecil dulu kita ditanya apa cita – cita dan impian kita? Saat itu kita akan menjawab tanpa ragu, ingin jadi dokter, professor, pilot, guru, pengusaha, atau cita-cita lainnya. Begitu tinggi cita-cita yang kita canangkan. Semua itu kita ucapkan seakan tanpa beban. Bahkan dengan bangganya kita ucapkan secara lantang.
Sebenarnya secara tidak langsung kita diajari memiliki mimpi besar dan cita-cita tinggi. Tapi sekarang? Seakan semua berubah 180 derajat. Ajaran-ajaran yang dulu kita dapatkan sirna begitu saja seakan diterbangkan angin lalu. Dengan perjalanan waktu kita semakin bertambah dewasa. Tapi dengan bertambahnya usia tidak serta merta membuat kita semakin berani bermimpi yang lebih tinggi. Justru sebaliknya, banyak yang kemudian semakin tidak berani bermimpi.

Padahal meraih kesuksesan adalah sebuah pilihan. Merangkai mimpi menuju harapan yang cerah adalah hak setiap orang. Semua insan boleh berharap, berangan - angan menjadi dan melakukan yang terbaik. Semua itu pilihan. Jika memang ingin meraih apa yang pernah kita canangkan sebagai cita-cita, maka yang pertama kali harus kita lakukan adalah memilih jalan kesuksesan tersebut. Pilihan itu akan membentuk sebuah paradigma yang kembali akan membentuk sikap kita, karena paradigma itu akan menanamkan sebuah visi yang akan mengarahkan kita kepada apa yang menjadi pilihan hidup kita.
Semua orang pernah melakukan kesalahan. Semua orang pernah keluar dari jalur yang telah ia pilih sebagai jalan hidupnya. Namun cukuplah satu kali kesalahan itu menjadi pembelajaran yang bermakna, yang justru akan menjadikan kita sebagai manusia yang “tak akan pernah salah lagi”. Orang cerdas akan menjadikan kesalahan sebagai referensi sekaligus motivasi agar ia tak pernah jatuh pada lubang yang sama. Ia juga akan menjadikannya sebuah tantangan. Ia tertantang untuk membuktikan bahwa ia mampu mengatasi, atau bahkan menaklukkan kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat. Konsekuensi logisnya, ia akan mampu menjadi luar biasa justru dari kesalahan itu. Kesalahan adalah guru yang paling efektif untuk membina seseorang.
Banyak fakta menunjukkan, terbentuknya seseorang menjadi manusia yang hebat adalah karena ia telah mengalami “penderitaan” terlebih dahulu. Penderitaan di sini harus dimaknai dengan lebih luas. Penderitaan di sini lebih menjurus kepada sikap mental yang gigih dan pekerja keras, selalu bersedia mengalami masalah karena justru dari sanalah kematangan yang sebenarnya akan didapatkan. Seringkali kita menemukan, anak yang berasal dari kalangan tidak mampu namun mampu melanjutkan studinya ke jenjang yang tinggi, akan lebih gigih daripada anak yang berasal dari keluarga mapan. Hal itu karena keprihatinan yang melandanya telah membentuk mentalnya menjadi seorang yang pantang menyerah.
Nada sumbang dapat datang dari mana saja, bahkan dari orang yang sangat dekat dengan kita. Langkah paling bijak untuk menyikapinya adalah dengan menutup mata terhadap suara-suara tersebut. Hanya dengarkan suara-suara yang mendorong kita ke arah yang lebih baik, abaikan sisanya. Orang tak akan pernah lelah untuk mengomentari segala hal yang kita lakukan. Mereka hanya akan berhenti jika kita telah membuktikan kalau kita berhasil mencapai apa yang menjadi tujuan kita.
Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Bermimpi besar bukanlah pantangan, namun justru kewajiban. Kejarlah mimpi itu. Jadilah pejuang, jangan jadi orang biasa saja. Jadilah sang pemain kehidupan, jangan mau selalu jadi penonton. Jadilah bukti itu sendiri, jangan menunggu bukti dari orang lain.
“Beranilah bermimpi, dan bangunlah untuk mengejar mimpi-mimpi itu. Jika kesempatan menghampiri, itu baik. Namun jika tidak, ciptakanlah kesempatan itu.”

*disarikan dari berbagai sumber

Mengenai Saya, silahkan Klik: https://www.linkedin.com/pub/setyawan-roses/44/583/bba

Foto saya
Peduli & Concern Tentang Sales - Saving & Personal Financial Planning