Kamis, 28 Januari 2016

Perencanaan Keuangan

image

Wealth Protection (Proteksi Kekayaan) adalah cara dan upaya yang dilakukan untuk menghadapi setiap risiko yang terjadi dalam kehidupan kita. Cara ini merupakan bagian dari Pengelolaan Keuangan sehingga tidak terjadi dampak yang buruk bagi masa depan.


Tujuan dari pengelolaan risiko :
1. Mengurangi risiko kerugian secara material
2. Menjaga agar perencanaan keuangan tidak terganggu oleh “Tragedi Finansial” yang datangnya selalu tiba-tiba dan tidak pernah direncanakan.
3. Mengelola agar uang yang biasanya digunakan untuk bersenang-senang, dialokasikan sebagai tabungan wajib, yang sekaligus berfungsi sebagai perlindungan.
4. Mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk menghadapi kemungkinan buruk yang terjadi.

Atau dengan kata lain tujuannya adalah :
Mengurangi ketakutan dan kekhawatiran akibat kerugian yang ditimbulkan oleh “Tragedi Finansial” yang pasti terjadi dalam kehidupan kita tanpa kita sendiri pernah tahu kapan waktunya.

Cara menghadapi Risiko
Ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu :
1. Mengendalikan risiko
2. Mempersiapkan Keuangan untuk menghadapi risiko

Mempersiapkan Keuangan untuk menghadapi risiko :
a. Mempersiapkan keuangan sendiri untuk menanggulangi risiko dengan cara membuka rekening khusus untuk menyimpan dana penanggulangan risiko
1. Tabungan I, khusus untuk perbaikan motor atau mobil akibat kecelakaan.
2. Tabungan II, khusus untuk biaya diri sendiri dan keluarga berobat ke rumah sakit
3. Tabungan III, khusus untuk biaya sekolah anak-anak
4. Tabungan IV, khusus untuk biaya santunan kematian

b. Mengalihkan dampak keuangan yang tidak mampu ditanggung sendiri kepada pihak asuransi

- Membayar premi setiap tahun untuk asuransi kendaraan bermotor
- Membayar premi setiap bulan untuk asuransi kesehatan keluarga
- Membayar premi setiap bulan untuk asuransi pendidikan
- Membayar setiap bulan untuk asuransi jiwa

Dalam hal mempersiapkan keuangan untuk menghadapi risiko, apakah pilihan terbaik yang bisa kita ambil ? Mempersiapkannya sendiri atau menyerahkannya pada pihak asuransi ?

Mempersiapkan sendiri
Keuntungan :
Apabila risiko sakit, kecelakaan, kematian tidak terjadi dalam kehidupan maka tabungan itu tetap menjadi milik kita.
Kerugian :
Apabila risiko sakit, kecelakaan, kematian benar-benar terjadi, maka tabungan yang dipersiapkan akan habis bahkan tidak mencukupi untuk menutup biaya yang timbul.

Menyerahkan kepada pihak asuransi
Keuntungan :
- Biaya lebih murah
- Apabila terjadi risiko sakit, kematian, kecelakaan mobil, maka biaya untuk menutup semua kerugian yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi sesuai dengan program yang kita pilih.

Asuransi
Mengapa asuransi penting bagi kita ?

1. Memberikan rasa aman kepada diri dan keluarga kita.
Apabila terjadi kematian, terutama kepada kepala keluarga, maka yang ditinggal akan mendapat santunan supaya dapat menjalankan kehidupan

2. Meringankan beban biaya rumah sakit
Saat ini biaya rumah sakit sangat mahal. Karyawan yang bekerja di perusahaan tanpa fasilitas kesehatan sebaiknya segera memiliki asuransi kesehatan

3. Melindungi penghasilan
Program asuransi saat ini bisa terus berjalan, bahkan memberikan penghasilan, sekalipun sang pemegang polis tidak lagi dapat bekerja akibat cacat tetap.

4. Melindungi harta benda, misal rumah dan mobil 
- Risiko kebakaran rumah sangat tinggi apabila tinggal di daerah perumahan - Risiko kerusakan mobil akibat kecelakaan dapat terjadi pada siapapun

5. Mengalokasikan dana konsumtif menjadi tabungan wajib
Dengan mengikuti asuransi, Anda harus rutin menabung setiap bulan dan mengurangi kebiasaan konsumtif.

6. Memiliki dana lebih di hari tua untuk menikmati hidup
Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan dana saat pensiun sangat besar terutama biaya kesehatan. Walaupun sudah ada uang pensiun, tidak ada salahnya memiliki lebih banyak dengan cara menabung lewat asuransi.

Suatu contoh
Ada yang menawarkan asuransi jiwa dan kesehatan bagi Anda yang berusia 37 tahun pria atau wanita dengan premi per bulan hanya 320 ribu selama 10 tahun pembayaran.
Anda akan mendapatkan :
- perlindungan kesehatan rawat inap di RS s.d. usia 75 tahun dengan plafon kamar 150 ribu per hari
- Biaya aneka perawatan di RS as charge (semua tagihan akan ditanggung)
- Batas penggantian per tahun Rp 75 juta
- Uang Pertanggungan Rp 15 juta
- Manfaat meninggal dunia dan Cacat Tetap seluruh anggota badan karena kecelakaan Maks. s/d usia 60 tahun Rp 15 juta
- Tertanggung untuk yang pertama kali selama masa pertanggungan, terdiagnosa salah satu dari 31 penyakit kritis Rp 15 juta (Pertanggungan pokok tetap berjalan.)
- Total premi yang dibayarkan 38,4 juta dan nilai tunai pada tahun ke 10 sebesar 28 juta (dengan estimasi hasil estimasi 10 tahun terakhir sebesar 200%), Anda akan mendapatkan perlindungan kesehatan selama 38 tahun (75-37)
- Nilau tunai akan tetap berkembang dan pada saat usia Anda 55 tahun akan bernilai 86,7 juta yang bisa dimanfaatkan sebagai dana pensiun

Tertarik kah Anda ? Putuskan segera, karena sangat penting !

SAYA AKAN BANTU PROSES INI, contact me at :
SETYAWAN - 08122789402 - 082122027171
setyawanroses@gmail.com



source : perencanaankeuangan.org

Siapa Bilang Asuransi Kesehatan Mahal !

Asuransi Jiwa dan Kesehatan itu ternyata preminya terjangkau dan memberikan banyak perlindungan


Banyak anggapan bahwa premi Asuransi Jiwa dan Kesehatan itu mahal. Mungkin karena alasan itu masih sedikit orang yang mempunyai asuransi tersebut. Sebenarnya masing-masing item asuransi mempunyai Cost of Insurance atau biaya asuransi.
Dari itu sebenarnya kita bisa menilai seberapa harga sebenarnya masing-masing item asuransi. Mungkin juga alasan manfaat yang didapat dibanding dengan preminya terlalu sedikit. Seharusnya agen asuransi menawarkan yang terbaik untuk kepentingan calon nasabah bukan semata-mata untuk kepentingan agen asuransi itu sendiri.

“Dari total penduduk Indonesia sebesar 240 juta jiwa, hanya sekitar 43,7 juta orang atau hanya sekitar 18 persen dari total penduduk Indonesia yang memiliki perlindungan asuransi jiwa. Dan dari 43,7 juta orang tersebut, hanya sekitar 11 juta orang atau hanya 4,5 persen dari total populasi yang memiliki asuransi jiwa individu,” kata Hendrisman Rahim sebagai Ketua Umum AAJI saat konferensi pers di kantor AAJI di Plaza Office Tower Jakarta, Jumat (3/5/2013).

Asuransi yang banyak dipasarkan akhir-akhir ini adalah asuransi unit link. Yang memberikan dua manfaat sekaligus, yakni manfaat perlindungan santunan asuransi jiwa dan manfaat investasi dalam bentuk nilai tunai. Adapun manfaat asuransi yang terkandung dalam unit link tidak berbeda dengan proteksi yang diberikan jenis asuransi jiwa tradisioanal, yakni manfaat meninggal dunia, manfaat santunan kesehatan, dan manfaat lainnya sesuai program yang dipilih. Dengan masa premi selama 10 tahun nilau tunai yang bisa kita ambil minimal adalah 50% dari jumlah premi yang kita bayar.

Saya sudah melakukan survey dengan cara meminta ilustrasi di agen asuransi yang mempunyai website. Hasil analisanya adalah sebagai berikut :

– Ada agen asuransi yang tidak memberikan manfaat yang bagus secara langsung. Setelah ada balasan dari calon nasabah baru kemudian agen memberikannya. Itu kalau calon nasabah sudah mengerti sebelumnya berbagai macam manfaat asuransi. Kalau tidak dan calon nasabah langsung mempercayainya maka calon nasabah akan merugi seumur hidup atau sampai polis ditutup.

Manfaat asuransi kesehatan bisa sistem reimburst dan sistem kartu provider (cashless). Ada agen yang menawarkan pertama kali adalah sistem reimburst. Memang ada perbedaan biaya asuransi. Namun sebaiknya, keduanya harus ditawarkan kepada calon nasabah. Calon nasabah yang akan memutuskan sendiri. Perlindungan rawat inap di rumah sakit ada dua macam. Pertama manfaat santunan harian rawat inap di rumah sakit dan penggantian aneka biaya rawat inap di rumah sakit dengan plafon kamar. Manfaat santunan harian rawat inap di rumah sakit biasanya dengan sistem reimburst. 

Penggantian aneka biaya rawat inap di rumah sakit dengan plafon kamar biasanya dengan sistem kartu provider. Sebaiknya kita mengambil asuransi dengan penggantian aneka biaya rawat inap di rumah sakit dengan plafon kamar dengan sistem kartu provider.
Karena mempunyai kelebihan :
a. tidak perlu mengeluarkan uang sendiri dulu
b. jumlah pertanggungan lebih besar

Misalnya:
Rawat inap 10 hari, jika sistem santunan harian 500ribu per hari maka yang ditanggung hanya 5 juta. Ini jumlah yang lebih kecil dari seluruh biaya rawat inap 10 hari. Kalau sistem penggantian penuh dengan plafon kamar misal 300 ribu per hari. Maka seluruh tagihan ditanggung asuransi.

– Terlalu banyak alokasi premi yang dialokasikan untuk investasi dibandingkan dengan total biaya asuransi. Seharusnya calon nasabah diberikan beberapa pilihan mulai dari pilihan investasi minimal sampai pilihan investasi tinggi.

– Terlalu panjang masa premi s.d. 20 tahun
Biasanya dengan hanya masa premi 10 tahun sudah bisa memberikan perlindungan maksimal

– Ada batasan minimal mengambil manfaat pada tingkat tidak terendah.
Misal untuk plan A sudah tidak ada dan diharuskan sekarang start dari plan B.  Maka calon nasabah dengan budget minimal akan sulit ikut asuransi.

Memang setiap produk asuransi mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Dan ternyata ada asuransi jiwa dan kesehatan yang paling terjangkau dan memberikan banyak perlindungan serta mempunyai nilai investasi yang optimal (20% per tahun). Yaitu asuransi dari Sinarmas MSIG Life dari perencanakeuangan.org yang memiliki RS Rekanan di hampir setiap kota besar.




Untuk informasi detail hubungi saya

 SETYAWAN
08122789402 – 082122027171
setyawanroses@gmail.com
 
Jangan memutuskan ikut asuransi jiwa dan kesehatan sebelum mempertimbangkan asuransi SinarmasMSIG dari perencanakeuangan.org




















mixed & source from : aris trijayadi

Minggu, 03 Januari 2016

Disemangati Buku “Dari Gerobak Jadi Alphard”

dari gerobak jadi alphard

Beberapa bulan lalu, saya sempat merasa ngedown karena lelah bekerja. Apalagi saat saya harus menjalani perawatan serta operasi usus buntu, rasanya badan saya seolah menyerah. Saya pernah diposisi menyerah dan memilih untuk liburan di sela – sela masa istirahat saya. Selama masa liburan itu lah saya beberapa kali membaca buku – buku biografi tentang kesuksesan seseorang. Biasanya, setelah membacanya saya akan jadi termotivasi lagi dan kembali semangat menjalani aktivitas saya sebagai wanita kantoran. Tapi akhir – akhir ini, saya sering merasa kelelahan membaca biografi atau buku tentang kisah sukses namun cara penyampaiannya terlalu berat. Saya butuh bacaan yang ringan tapi penuh dengan cerita yang membuat saya kembali semangat. Saya butuh penyemangat baru!
Lalu seorang teman mengabarkan bahwa kakak temannya mengeluarkan sebuah buku. “Dari Gerobak Jadi Alphard”, begitu judulnya. Saya jadi langsung penasaran sekaligus bersemangat. Apalagi saat saya diberitahu bahwa buku ini mengangkat kisah nyata Mas Arie Gaspol, penulisnya, yang menceritakan tentang suka duka kehidupannya. Mulai dari jualan es di gerobak hingga punya mobil mewah sekelas Alphard. Saya langsung menghela napas sekaligus geleng – geleng kepala, kok bisa ya? Rasa penasaran saya akhirnya terbayar lunas saat saya dikirimi bukunya.
SINOPSIS
“Ini bukan fiksi. Ini adalah kisah nyata yang dahsyat dari seorang yang benar – benar tangguh dan pantang menyerah. Melalui cerita panjang perjalanan hidupnya, banyak pelajaran menarik dan menggetarkan yang layak Anda simak dan petik. Dan, hal hebat yang perlu Anda ketahui adalah dengan membaca buku ini Anda akan terangsang untuk siap menjalani hidup ke arah yang lebih baik dan lebih sukses lagi, lagi, dan lagi!”

REVIEW
Saat sekilas melihat cover bukunya, saya sempat bertanya – tanya, ini beneran buku pengalaman hidup orang sukses? Kesannya sampulnya yang sederhana membuat saya mengira ini hanya buku fiksi atau cerita catatan hidup sederhana yang agak berlebihan dengan judulnya. Apa benar hanya kerja sebagai agen asuransi lalu si penulis bisa membeli mobil mewah yang harganya bikin geleng – geleng kepala itu?
Memang, di awal cerita, Mas Arie nggak melebih – lebihkan keadaannya. Cerita mengalir begitu saja membuat saya menikmati kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf hingga lembar demi lembar. Cerita tentang masa kecil Mas Arie yang penuh tanda tanya nggak dijelaskan dengan drama, tapi sesuai dengan pemikiran anak seusianya saat itu. Saya pun sempat meneteskan air mata saat Ibu kandung Mas Arie bertemu dengannya. Ups, spoiler dimulai. Tapi itu kenyataan, ada rasa haru saat saya membacanya.
Dan yang paling bikin dada saya sesak adalah saat Arie harus melalui masa kecilnya dengan usaha, usaha, berdoa, berdoa lalu usaha lagi. Seluruh keringat, pikiran serta kerja kerasnya dicurahkan untuk mengubah masa depannya. Bukan semata karena hanya mencari uang – ya walaupun memang itu tujuan untuk bertahan hidup – tapi karena Arie kecil memang ingin mengubah hidup dan dunianya.
“Aku yakin aku bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik di kota ini…

Bukankah tak ada hasil yang sia – sia dari kata kerja keras itu

Waktulah yang akan menentukannya…”
Dan saya kembali sesenggukkan – maaf kalau lebay, saya hanya nggak habis pikir – saat Arie remaja harus merantau ke daerah orang, mengajar dan bekerja tanpa dibayar. Sebenarnya uang bayarannya dipakai untuk bayar sekolah di kota orang. Lalu ia berjuang sendiri sambil menahan kangen pada kedua orang tuanya karena hidup di kota yang berbeda. Sebuah pengalaman yang sampai detik ini belum saya rasakan, karena saya memang belum sanggup menjalaninya. Dan semua usaha dilakukan agar membahagiakan keluarganya, terutama membuat Ibu dan Ayahnya bangga. Bahwa anak dari seorang yang tak mampu tapi berhasil lulus dari sekolah kejuruan dan siap untuk mengadu nasib di rantauan. Lalu saya jadi tersadar, malu dengan diri sendiri yang masih lalai dalam bekerja, masih ogah – ogahan mencari ilmu, dan masih nggak sungkan meminta pada orang tua.
Di lembar – lembar terakhir, Arie dewasa menjadi pribadi yang tangguh. Ia terus hidup dalam tekanan kebutuhan uang demi menyambung nyawa – dan juga untuk pengobatan ibunya. Ya, dibagian akhir cerita ternyata ada kenyataan pahit lagi yang harus diterimanya. Arie dewasa tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tapi untuk pengobatan ibunya, lalu untuk masa depannya. Tak sedikit memang yang meragukan kemampuan pria lulusan SMK bermodal tampang pas – pasan dan baju lusuhnya. Tapi namanya juga rejeki nggak bakal ketuker yah, ternyata Arie dewasa menemukan passionnya di usaha asuransi. Usaha yang akhirnya memberikan ia kemudahan untuk melakukan banyak hal, salah satunya membayar seluruh pengobatan dan operasinya ibunya yang tidak murah tentunya.
Seperti kebanyakan buku cerita sukses, diakhir lembaran pasti ada akhir yang bahagia. Namun saya nggak peduli, saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan cara Arie kecil berpikir dan bertindak. Pantas jika Arie dewasa akhirnya bahagia, sukses bersama orang – orang tersayang. Arie dewasa akhirnya bisa sampai ke level bingung menghabiskan uang – uangnya. Dan saya pun ikut tersenyum diakhir lembar buku ini.
Saya yang tadinya lebih suka bermalas – malasan, sekarang seperti dicambuk. Saya harus berusaha, agar lebih baik lagi, lagi dan lagi. Ah terima kasih, Arie kecil, Arie remaja dan Arie dewasa. Saya belajar banyak dari buku ini. Buku yang ringan, membuat saya tak sadar akhirnya sudah sampai diakhir kata dan ditemani sisa – sisa aliran air mata di kedua pipi gempal saya. Lalu akhirnya, saya menanamkan beberapa kalimat yang ditulis di halaman 77.
“Bukankah aku harus mencoba melangkahkan kaki ini…

Ya, berat…

Tetapi, jika tak begitu

Maka aku pun tak pernah bisa membuat kaki ini melangkah…”
Ya, memang selalu ada jalan bagi siapapun yang berusaha. Bukankah memang sudah begitu seharusnya? Saya mengamini dan selalu meyakini, selalu ada pelangi indah sehabis hujan badai. Selalu, walaupun waktunya belum tahu kapan. Saya merekomendasikan buku ini, bagi siapapun yang butuh hiburan sekaligus saran yang tak menggurui. Buku ini layak baca bagi mereka yang ingin dimotivasi dan dalam tahap putus asa. Buku ini layak dimiliki sebagai investasi pengalaman yang menyenangkan, tapi juga menginspirasi.
Penasaran dengan penulisnya? Bisa loh follow twitter dan instagramnya @arie_gaspol atau like facebookmya. Selamat membaca dan selamat mendapatkan semangat baru!
dari-gerobak-jadi-alphard_ 
Judul Buku: Dari Gerobak Jadi Alphard
Penulis: Arie Gaspol
ISBN: 978-602-1669-05-1
Penerbit: DIGNA PUSTAKA
Editor: Agustina Ardhani Saroso
Desain Cover: Alakazam
Layout isi: Fitri
Tanggal Terbit: Agustus 2015
Harga: Rp 65.000
Tebal: 160 halaman
PS: Untuk teman – teman yang ingin membeli buku ini, bisa menghubungi 0815 7413 4490

 https://delapankata.files.wordpress.com/2015/09/footer-copy.gif

Source :  https://delapankata.wordpress.com/2015/11/10/1820

Buku / Need Insurance / Menjadi agency  - Silahkan Kontak ke Setyawan : 08122789402 

Rabu, 30 Desember 2015

Enterprenuer Kog Pikiran Negatif

Sebuah percakapan seorang mahasiswa yg ingin jadi Enterprenuer dg seorang bisnisman...Sebut saja sang mahasiswa namanya Tiro dan sang bisnisman adalah Setia

Tiro:  "Assalamualaikum...selamat pagi pak.. "
Pak, susah juga cari customer !!. Kebanyakan nggantung pak.. Uda coba sana sini.."
Setia: "Waalaikum salam wr wb... pagi juga... tenang cak..jangan nyari customer...tapi belajar presentasi dan cerita tentang program ini....gagal satu masih ada sejuta kali usaha...hehhehhe kapan bisa ketemu, kita ngobrol2....."

Tiro : "He he iya pak. Presentasi juga sih. Ini masih Persiapan UAS pak !"
Setia: "Cek postingan  www.setyawanroses.blogspot.com,ya..!"

Tiro: "Iya sudah saya baca pak..he... he "
Setia: "Nah gitu salah satu cara kerjanya..dimanapun kapanpun bisa kog..!"

Tiro: "Iya mungkin kalau seperti anda mudah karena dilihat dari penampilan anda sendiri sudah bisa dipercayai ".. Laa seperti saya mikirnya nasabah "ah masih anak anak, apa iya" takutnya nasabah hanya berfikir seperti itu, Mungkin cuma ini lah itu lah...!"
Setia: "Pernah baca buku Merry Riana sejuta suluh... dia mahasiswa spt sampeyan cak..!"
Tiro: "Tau ,tapi belum pernah baca pak..!"

Setia: "Yg memunculkan fikiran "Ah apa iya masih anak2 !" sebenarnya siapa customer atau sampeyan sendiri?
Yg memunculkan ketakutan2 buruk sebenarnya siapa? Kan hanya di kepala kita sendiri..!"
Tiro:  "Mungkin saya, tapi tidak menutup kemungkinan customer seperti itu... Iya. Keoptimisan saya diserang sama keragu raguan seseorang terhadap saya..."

Setia : "Berapa kali mencoba berapa kali orang lain mengatakan demikian?
"Bayangkan kalo kita mau jadi enterprenuership sukses tapi sudah membunuh kesuksesan kita sendiri diawal dg pikiran kita !"
"Pak Arie mulai dari 19 tahun dan bukan mahasiswa.. masih inget bukan?
"Saya mulai jualan gula jawa diusia 20 dari orang2 ke orang.."
"Kemudian saya jualan produk tabungan bank dari usia 21 tahun.. tanpa ada yg membekali produk knowledge sama sekali !"
Tiro: "Iya pak terimakasih masukan dan motivasinya. Semangat jadinya !"

Setia : "Percayalah cak.. lakukan saja dg fun...seperti nama sampeyan.."Tiro Fani"..hehhehe toh kalo nggak diterima customer, nggak bakalan dibunuh kan...hehehehhe..."
Tiro:  "Heheheee iya pak.. Bermula dengan keyakinan !.... Betul nggak pak? he..hee"

Setia: "Setuju banget... wis gini saja..kapan ada rencana sosialisasi nanti saya dampingi... ok cak..!"
 Tiro: "Hee saya belum sepenuhnya bisa, Mungkin dalam penyampaian kurang pas atau apa."
"Saya belum menguasai betul...

Setia: "Nggak papa, nanti lihat cara saya bicara.. setelah itu jika ketemu orang lagi nanti gantian sampeyan yg bicara..ok cak !"
  
Tiro : "Iya.. Kalau bisa direkam pak...!?"
Setia:  "Hehehe....
"Oh ya, nanti januari besok sampeyan dan teman2 akan saya ajak join di acara lomba menggambar anak di Sidoarjo.. nanti bareng2 saja berangkatnya..kan fun itu nanti!"

Tiro: "Disana ngapain agendanya pak?"
Laa nggak ada kendaraan pak kami..!"
Setia: "Nanti kita ngasih sosialisasi program pendidikan ke orang tua yg antar anaknya lomba..!"
"Berangkatnya pake mobil kita semua, nanti kumpul dimana kita jemput"

Tiro: "Insya Allah ya Pak Kita sukses...!"
Setia: "Aminnnn !"

Moral dari percakapan itu adalah :
1. Ketidakmampuan itu justru muncul dari diri kita sendiri bukan orang lain...
2. Pikiran negatif kita sendiri yg seringkali menjatuhkan diri kita sendiri
3. Menjadi leader adalah bisa bicara, bisa menjalankan dan mau membimbing..
Ada yg mau nambahin..ayo monggo aja..

Salam, semoga bisa menjadi resolusi 2016 dan selalu sukses untuk semua keluarga & sahabat-sahabatku tercinta.

*Percakapan ini adalah interaksi nyata antara penulis dengan seorang mahasiswa yg sedang di bimbing untuk menjadi enterprenuer

Jumat, 13 November 2015

SAATNYA BAGI ORANG TUA UNTUK MENGATAKAN......

ANAKKU BISA SEKOLAH TERBAIK & 
         BIAYA SELALU ADA KAPANPUN !
Dan APAPUN KONDISI Ku 

CONTACT ME : SETYAWAN
:: setyawanroses@gmail.com
:: 08122789402 - 082122027171

Minggu, 01 November 2015

Jurus Kesuksesan Ratu Asuransi Ida Kuraeny

  • Jurus Kesuksesan Ratu Agent Asuransi Ida Kuraeny

Ida Kuraeny, profesional agent PT. Asuransi Jiwa Sewu New York Life (kini berganti nama menjadi Sequislife: red), bisa dibilang “ratunya” jagad asuransi Indonesia. Betapa tidak? Cukup berbekal pendidikan formal SMKK, dan sejumlah program ekstensi, Ida melejit sebagai penjual asuransi terbaik di negeri ini. Sejak tahun 1997 hingga 2001 lalu, Ida selalu masuk kualifikasi MDRT (Million Dollar Round Table). Tahun 1999 ia mencapai posisi Top of the Table. Sebuah posisi prestisius di antara para anggota MDRT lainnya. Tahun 1998, ia meraih penghargaan sebagai Top Agent of the Year. Dan tahun 2000 dan 2003 ia meraih Top Agent Award versi Dewan Asuransi Indonesia (DAI) kategori Best Senior Productive Producer. Terlalu panjang jika disebutkan semua pernghargaan yang diraihnya.

Menekuni asuransi sejak usia 24 tahun, Ida menganggapnya sebagai profesi “kecelakaan”. “Tidak ada seorang agen pun, di asuransi ini, yang awalnya bercita-cita menjadi agen,” kenang Ida, kelahiran Surabaya, 13 Agustus 1969. Keluarga tidak mendukung karena cerita-cerita miring di profesi ini. Syukur, sang suami malah paling semangat mendukungnya. Namun, keputusan “mantan” pegiat MLM dan sales door to door ini tidak salah. Ia menemukan jati diri bisnisnya di asuransi.
Dengan prinsip learning by doing, Ida membuktikan profesinya sangat layak diperhitungkan. Bahkan patut jadi kebanggaan. Ida berhasil menjual premi rata-rata per tahun di atas Rp500 juta. Kini ia memiliki lebih dari 600 nasabah. Khusus tahun 2001 lalu, total penghasilan dari komisi tahun berjalan, komisi tahun sebelumnya, berbagai bonus, dan renewel business, bisa mencapai di atas Rp500 juta!
Bukan itu saja! Kepiawaian di bidang asuransi –yang ditimbanya dari pengalaman– telah melahirkan lembaga konsultan marketing bernama Ida Kuraeny & Associates yang berkantor di Lt.37 Wisma GKBI, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat. Sebuah lembaga yang memberikan pelayanan public speaking bidang asuransi, marketing, customer service, dan management skills. Dengan lembaga itu, Ida ingin supaya ketika orang bicara asuransi, mereka ingat namanya. Tentu saja impian itu makin menjadi kenyataan setelah Ida berhasil menyelesaikan bukunya tentang seluk beluk profesi agen asuransi yang berjudul Membuat Impian Menjadi Kenyataan (Gramedia, 2003).
“Saya dulu sering perhatikan orang-orang di sekeliling Sudirman, di mal-mal, di café-café. Keren-keren bajunya…bawa mobil mewah. Kapan ya bisa seperti itu? Saya bayangkan kalau bisa seperti mereka. Itu memotivasi diri saya,” kenang Ida. Dan mimpi ibu dari Oto, Ony, Sela, dan Ridho ini kesampaian sudah. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dengan Ida Kuraeny di kantornya di Jakarta Selatan.
Bagaimana awal ceritanya Anda bisa nyemplung di bisnis asuransi?
Tidak ada seorang agen pun, yang awalnya bercita-cita menjadi agen asuransi. Nggak ada. Accident. Kita tahu kan profesi agen asuransi itu paling tidak diminati, paling ditakuti, atau pilihan terakhir. Bahkan keluarga awalnya sama sekali tidak mendukung. Padahal, menjual asuransi yang kita dekati kan keluarga dulu, seperti di MLM. Dengan kondisi seperti itu saya tertantang. Tapi karena waktu itu leader saya kurang memperhatikan, tahun 1991 saya hanya bertahan tiga bulan di asuransi Universal Lifeindo dari Philipina dan partner Indonesianya dari Gunung Sewu Kencana. Tahun 1992 mereka diakuisisi New York Life International, saya kembali masuk tahun 1994. Tahun itu keputusan saya bulat. Dari situlah saya mulai menjadi agen.
Apa yang dilakukan seorang agen asuransi?
Sebenarnya sama dengan MLM. Kalau MLM produk dalam bentuk barang, kalau saya bentuknya kertas jaminan masa depan. Sifatnya abstrak. Butuh kemampuan luar biasa untuk meyakinkan mereka supaya membeli produk asuransi. Seperti di industri MLM, pertama kita harus mengumpulkan bank nama. Investasi atau aset terbesar kita ada di bank nama itu. Di asuransi minimal kita punya 100 bank nama. Dari 100 nama itu kita kembangkan, diklasifikasikan mana yang potensial membeli asuransi.
Dulu saya berawal dari pasar-pasar kecil. Karena saya bukan anak orang kaya. Mau nawari direktur, ya saat itu nggak punya nyali. Yang membuat saya surprais sampai hari ini adalah, dari pasar yang kecil-kecil, saya berubah jadi (mempunyai) pasar besar. Orang-orang di perusahaan mengenal saya sebagai agen kelas teri. Tapi kecil-kecil beratnya bisa satu ton ha ha ha… Saya bisa menjual 100 polis dalam satu tahun, secara konsisten tiga tahun berturut-turut.
Bagaimana dari agen kelas teri jadi ke pangsa pasar yang besar?
Karena saya merawat after sales service. Komisi di asuransi besar, kan? Kita tahu komisinya 30%, ditambah bonus-bonus kalau kita mencapai level tertentu. Dengan komisi tadi saya alokasikan sebagian untuk biaya servis. Hal itu jarang dilakukan oleh agen lain. Saya punya moto, masa depan saya merupakan investasi saya hari ini. Sebagai agen kita tidak punya bos, bisnis sendiri, wirausaha mandiri. Kita itu entrepreneur. Berarti harus punya modal. Modalnya apa? Yaitu tadi bagaimana maintenance klien saya after sales service. Contohnya kartu ucapan edisi khusus untuk para nasabah. Saya juga kerjasama dengan tukang bunga, tukang kue, tukang balon untuk saya kirim kepada mereka.
Mengapa nyemplung di asuransi?
Waktu saya keluar, suami saya tetap menekuni asuransi. Setelah di resepsionis saya kan di marketing, deal dengan orang-orang lain. Sehari punya target ketemu delapan customer, delapan tempat. Lalu suami menyarankan, ‘Dengan ketemu delapan orang sehari, kenapa tidak di asuransi? Uangnya lebih gedhe?’. Di marketing saya dapat semua fasilitas. Hanya saja orang umumnya agak sulit melepaskan kenyamanan kan? Tapi dengan kepercayaan ketemu jumlah orang yang sama, uang akan lebih besar, saya bilang saya mau dapat yang lebih besar lagi!
Lalu saya mulai di asuransi dari nol. Saya lebih memilih ke professional agent. Saya tidak memilih di manajemen, karena kalau di manajemen berarti saya employee tidak beda dengan yang dulu. Sebagai professional agent pendapatannya tidak terbatas. Yang saya lihat fleksibel waktu dan fleksibel income.
Bagaimana cara memprospek orang-orang atas?
Menghadapi prospek seorang direktur pun, saya harus punya posisi selevel dengan dia. Dalam arti income ya…. Kalau kepintaran mungkin dia lebih pintar di bidangnya. Tapi bidang asuransi, sayalah ahlinya. Itu harus diciptakan! Supaya calon prospek melihat, ‘Oh ya, saya nggak salah orang nih’. Self confidence kita harus dibentuk dengan bantuan performance tentunya, skill, attitude, dan pola pikir. Dia akan melihat apakah ‘Orang ini layak nggak berbisnis dengan saya’.
Pada dasarnya kita mencari kesamaan, kan? Baru kita bisa in di situ. Sekarang saya lebih banyak ke pengusaha. Berarti pola pikir saya harus sama dengan seorang pengusaha. Misalnya, apa saja sih yang mereka pikirkan? Bicara masa depan, masalah karyawan. Saya sekarang lebih suka jual pada owner perusahaan. Sekali kerja saya bisa dapat polis di atas sepuluh. Yang saya incar karyawannya, makanya saya harus berpola pikir sebagai owner. Begitu ketemu bikin janji, kita nyambung.
Makanya tergantung pasarnya. Bahasa saya menyesuaikan. Jadi mereka bisa melihat ‘Eh, gaya bahasanya sama dengan saya’. Saya terbiasa menyamakan logat dengan calon prospek. Saya ketemu orang Jawa saya ikuti logatnya, ketemu orang Sunda saya bahasa Sunda. Senang mereka. Itu bermanfaat sekali karena suasana pembicaraan jadi alami. Jadi saya harus menyamakan kedudukan saya dulu.
Dari mana Anda belajar teknik-teknik seperti itu?
Learning by doing. Dengan saya sering ketemu orang, lama kelamaan saya tahu karakter orang. Belajar dengan sendirinya. Baca juga, itu informasi paling murah dan cepat. Saya bukan lulusan S-1, S-2, MBA bukan…. SMA saja. Mereka yang punya titel lebih tinggi itu pasti lebih pintar dari saya seharusnya.
Ketrampilan-ketrampilan dasar apa yang mesti dimiliki seorang agen asuransi?
Sederhana. Etiket nomor satu, karena itu yang menjembatani kita bisa bicara lebih dalam. Kalau kesan pertama tidak mengenakkan, apa akan terjadi pertemuan kedua? Etiket adalah tata krama, tata bahasa, intonasi suara, gaya bahasa, itu mempengaruhi. Gaya bahasa menunjukkan intelektualitas kita, kan? Gaya bahasa dan kepandaian berkomunikasi menentukan.
Harus punya ketrampilan membaca situasi. Saya harus bisa analisis. Dari suara pun bisa. Performance. Kita harus bisa menempatkan diri dengan siapa yang akan kita temui. Saya harus menyesuaikan. Kita juga perlu tahu asuransi dipandang dari sudut agama, dari segi hukum, segi ekonomi, sosial, psikologi. Saya ndak harus sekolah dulu di UI ambil semua jurusan ha ha ha… Ndak mungkin, kan? Belajar sambil jalan. Baca sambil ketemu orang dan menganalisa.
Saat bertemu prospek pertama kali, biasanya apa yang ditawarkan?
Awalnya –saat tidak berhasil—saya langsung tabrak lari. Artinya, begitu dapat janji ketemu, saya datang dengan proposal. Ndak peduli perasaan cocok apa ndak, main tembak aja, Rp100 juta uang pertanggungan bayar premi Rp12 juta. Orang shock! Jadi kegagalan itu saya analisis. Saya harus tahu dulu masa depan dia. Saya bertindak sebagai seorang konsultan. Bukan sebagai penjual asuransi. Konsultan memberikan solusi, bukan memberi produk langsung. Jadi fact finding dulu, orang ini ke mana arah hidupnya. Harus banyak bertanya dan banyak mendengar.
Di situ kuncinya. Kita akan bisa mengarahkan. Bagaimana tekniknya, ya banyak belajar dan bertemu orang setiap hari. Di perusahaan kami, standar ketemu dua orang sehari, saya lebihkan empat. Rasionya ketemu sepuluh, baru satu closing (yang mau beli: red). Itu bagi yang baru bergabung. Seperti saya sekarang, sekali ketemu bisa closing dengan uang pertanggungan cukup besar.
Saat bertemu prospek, jangan bersikap seperti hakim yang mendakwa kliennya. Mereka tidak akan senang. Kuncinya, saat ingin dapat informasi, berilah informasi tentang diri kita dulu. Kreatifitas harus tinggi. Insting dan ketajaman harus bisa menyesuaikan dengan situasi.
Pernah mengalami kesulitan dalam memrospek?
Pada saat bertemu dengan orang yang sudah kaya, sulit sekali mengambil uang mereka. Sulit meyakinkan bahwa dia tetap butuh asuransi. Duitnya nggak bakalan habis, bagaimana? Dari segi agama sudah ndak mempan, ekonomi apa lagi? Lalu dari mana lagi? Saya singgung dari segi egonya, psikologinya. Saya sangat percaya bisnis dia tidak habis untuk tujuh turunan. Tapi saya juga yakin dalam kondisi sudah di puncak tertinggi, dia butuh pengakuan secara sosial-ekonomi. Butuh aktualisasi diri, masuk ke lingkungan badan sosial, ke yayasan-yayasan. Kan banyak yayasan-yayasan sosial sebagai bentuk aktualisasi diri, supaya seseorang dihargai masyarakat luas? Nah, saya masuk dari situ. Mereka bisa memberi dana abadi kepada yayasan. Kita dibenarkan memberikan santunan kematian dengan ahli waris berbentuk yayasan.
Pengalaman “menyedihkan” ada?
Ada! Saya dimarahin. Kalau Anda pernah ditolak asuransi (karena hasil medical check-up: red), masuk ke asuransi lain lebih sulit. Boleh dibilang 90% tidak diterima lagi. Kecuali, asuransi itu main-main, atau ada data-data yang disembunyikan. Pada waktu ditolak, tidak semua orang siap. Akhirnya nasabah tadi marah.
Bagaimana menaklukkan prospek yang sudah ikut asuransi atau banyak alasan penolakan?
Diskusikan kembali, karena asuransi banyak jenisnya. “Kalau Bapak sudah beli, saya malah senang hati. Berarti saya tidak ketemu orang yang salah!” Kenapa? Karena mereka jelas lebih mengerti dong. Saya tidak perlu menerangkan dari awal sekali. “Saya sudah banyak lho asuransinya..” Tidak selalu, kalau prospek ada masalah, langsung saya jawab. Capek kalau begitu. Saya analisis dulu, apakah ini benar-benar masalah, objections, atau sekedar kepura-puraan untuk menolak. Saya selalu bilang, “Kalau saya bisa menjawab semua keberatan Bapak, Bapak mau beli asuransi dari saya…?” Saya tantang begitu.
Perbedaanya orang Indonesia dengan orang Amerika kalau beli asuransi; orang Indonesia…”Ida, berapa nanti yang bakal gue terima? Duit gue bakal berapa 15 tahun kemudian?” Kalau orang Amerika, yang sudah mengenal asuransi..”Nanti yang akan diterima keluargaku berapa?” Beda, kan? Satu buat ‘keluarga’, satu buat ‘saya’… ego, kan?
Solusinya apa?
Ajaklah prospek diskusi dulu. Tidak ada ikatan membeli, kan? Tidak ada maksud menggurui. Kalau agen kreatif, dia bisa mengubah prospek yang semula sekadar ingin tahu, berubah jadi pembeli. Tugas kita hanya menjelaskan. Di asuransi jiwa itu yang diasuransikan adalah nilai ekonomi kita pengertiannya, bukan jiwanya. Kalau meninggal, tidak bekerja, income hilang dong. Jadi yang diasuransikan incomenya, bukan jiwanya. Saya harus tahu financial commitment prospek. Saya harus tahu income dan pengeluarannya, karena saya seorang konsultan, bukan penjual. Kebanyakan agen kita menjual secara umum saja. Nasabah beli Rp.1-10 juta sudah cukup. Dianggap sudah besar oleh seorang agen. Ini kejadian, saya gali lagi nasabah itu, dia bisa beli Rp100 juta!
Berapa waktu Anda alokasikan untuk setiap prospek?
Tergantung, ya. Di industri kita pada dasarnya kalau ada buying signal (tanda-tanda membeli) baru akan terjadi penjualan. Tanda-tanda itu harus kita ciptakan dulu. Itu mempercepat proses. Buying signal itu antara lain begini; ”Ya, udah deh, kamu datang dulu ke tempatku, jelaskan 15 menit saja!” Kedua, dia banyak bertanya detailnya. “Kalau ada perang bagaimana?”, “Kalau saya pindah ke luar negeri bagaimana?” Kita harus ciptakan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke buying signal.
Pengalaman paling menyenangkan di bisnis ini?
Wow….kalau dapat cash besar! Satu keluarga beli Rp600 juta premi dalam waktu dua tahun. Padahal waktu itu rekor tertingginya di tahun 1998, sekali beli adalah Rp250 juta. Jadi boleh dibilang Allah mengijinkan… Pada waktu krisis penjualan saya meningkat. Tahun 1998 itu saya yang pertama memecahkan rekor Rp1 milyar untuk perusahaan saya. Rekor perusahaan sejak 1992 baru terpecahkan tahun 1998 oleh saya. Secara nasional itu rekor kedua, karena yang pertama dipecahkan oleh AIA Rp1 milyar di tahun 1997. Saya baru bisa pecahkan tahun 1998. Saya the Best Agent tahun 1999 di perusahaan. Sekarang untuk the Best Agent harus menjual Rp2,5 milyar setahun.
Apakah Anda punya target-target dalam bisnis ini?
Tahun 2000 saya dapat penghargaan sebagai Top Agent Award kategori Best Senior Productive Producer (Peringkat I) dari DAI. Saya berprinsip harus punya peringkat di DAI. Itu prestisius nasional. Tapi yang lebih prestisius lagi adalah anggota MDRT yang anggotanya para agen seluruh dunia. Ada tiga katagori MDRT; biasa, Court of Table, dan Top of the Table. Untuk jadi Top of the Table, dia harus punya kualifikasi penjualan enam kalinya MDRT biasa. Untuk MDRT biasa tahun 2001, dia harus menjual Rp439 juta premi. Saya sudah lima kali berturut-turut kualifikasi MDRT. Di Indonesia (sampai 2002: red), kurang dari delapan orang dengan kualifikasi MDRT lima kali berturut-turut. Tahun 2001 adalah MDRT keenam saya berturut-turut. Mimpi saya adalah menjadi MDRT seumur hidup. Kedua, bisa sepuluh kali berturut-turut. Enam kali sudah, itu rekor di Indonesia (data terakhir hingga 2004, Ida sudah meraih kualifikasi MDRT 10 kali: red).
Mimpi lainnya?
Mimpi lain saya menjadi (public) speaker. Saya sekarang sudah punya accociate sendiri untuk mengeducate para agen. Visi saya, dengan menjadi agen profesional, kita juga bisa punya bisnis sendiri. Ssalah satunya adalah sebagai public speaker. Secara finansial, saya tidak ingin punya masalah keuangan. Alhamdulilah, kami sudah lewati masa-masa kritis tersebut. Saya juga ingin membuktikan kepada masyarakat, bahwa profesi agen asuransi itu bukan profesi yang dipandang sebelah mata. Saya bangga sebagai agen profesional, karena saya bisa diterima di kalangan mana pun. Kalau kita profesional, hasil jerih payah kita itu ada harganya.

Saran saya kepada agen baru adalah disiplin
. Milikilah disiplin kerja yang tinggi, karena pekerjaan kita hari ini tidak langsung berbuah. Kalau mandeg, maka untuk memulai usaha lagi sulit. Disiplin diri, membangun performance diri, membangun motivasi diri, dan tularkan antusias kita kepada mereka, yang selama ini belum mengerti asuransi. Belajarlah pada mereka yang sudah sukses.*

Senin, 19 Oktober 2015

Tentang Agen Asuransi... Artikel ini pasti tidak menarik blassss !

Jadi agen asuransi atau istilah kerennya "financial consultant", kenapa tidak? masih ragu dan malu?

Semangat pagi temans….
Share dari cerita seorang teman :

Malu sebagai agen asuransi
Suatu hari ketika saya hendak merekrut seorang teman saya untuk menjadi agen asuransi, teman saya berkata kepada saya
“saya malu menjadi agen asuransi, saya melihat agen asuransi sering ditolak dan tidak dihargai ketika mereka datang ke kantor saya, teman2 saya juga tidak suka dengan agen asuransi, saya takut nanti teman2 saya  akan menjauhi saya.”
Saya tersenyum dan menatap matanya dalam2 dan berkata;
“Menurut kamu apa sih pekerjaan agen asuransi itu?” Tanya saya
“Orang yg menawarkan asuransi, yg mencari nasabah!” Jawab teman saya.
“Lalu jeleknya dimana? Malunya dimana?” Tanya saya kembali.
“Ya malu aja” jawabnya singkat.
Lalu saya berkata “Coba kamu bayangkan…
Ketika kamu sakit, siapa diantara teman2mu yang akan datang membayar tagihan rumah sakitmu?
Ketika sakitmu menjadi parah adakah temanmu yg dengan pasti akan membiayai pengobatanmu?
Ketika kamu terpaksa meninggal dunia di usia dini siapa temanmu yg akan membawa sejumlah uang untuk keluargamu dan memastikan orang2 yang kamu cintai tetap terpelihara?
Ketika kamu tua, adakah teman2mu menyediakan sejumlah uang untukmu untuk kamu melanjutkan hari tua dengan berkecukupan?”
Ketika gajimu tidak naik2, adakah temanmu yg mau menambahkan uang belanjamu?
Ketika nanti anak2mu butuh biaya untuk kuliah, apakah teman2mu mau membiayainya?
Apakah teman2mu menjamin masa depan hidupmu?
“TIDAK ADA” jawab teman saya.
Agen asuransi itu bukan sekedar menawarkan asuransi, agen asuransi adalah seorang yang memberikan penjelasan apa fungsi asuransi, apa saja manfaatnya,
agen asuransilah satu2nya pekerjaan yang membantu nasabahnya mempersiapkan segala rencana keuangan keluarga baik pencari nafkah masih sehat, ketika sakit bahkan ketika sudah tiada, agen asuransi hadir sebagai sahabat, bukan sebagai penjual asuransi.

Agen asuransi adalah pekerjaan yg mulia.

Mengenai Saya, silahkan Klik: https://www.linkedin.com/pub/setyawan-roses/44/583/bba

Foto saya
Peduli & Concern Tentang Sales - Saving & Personal Financial Planning